Selasa, 22 April 2014

Sejarah Desa Betoyo Manyar

Sejarah Desa Betoyo Manyar

Kyai Darmo Pipiyudo adalah pendatang yang pertama masuk ke daerah sebelah barat Manyar. Daerah itu belum dihuni banyak penduduk. Hanya ada beberapa rumah di daerah itu. Daerah itu dikelilingi rawa-rawa sehingga bila dilihat dari luar daerah itu seperti hamparan rawa yang luas yang ditumbui rerumpuutan dan ilalang yang menjulang. Orang tidak menyangka kalau di tengah-tengahnya terdapat pemukiman penduduk
Kyai Darmo Pipiyudo berasal dari negari seberang. Ia berasal dari kota suci Mekah. Ia meninggalkan negaranya dan mengembara demi menyebarkan agama Islam. Dalam pengembaraannya itu ia sampai di daerah itu dan merasa nyaman tinggal di tempat itu.


.Kyai Darmo Pipiyudo dituakan dan ditokohkan di daerah itu karena ia satu-satunya pendatang pertama dan yang paling tua umurnya di anatara pendatang lainnya. Ia sangat disegani dan dihormati oleh penduduk setempat. Apapun yang dikatakannya penduduk setempat selalu mematuhinya.

“Daerah ini tidak waris kalau dipimpin oleh penduduk asli. Bila yang memimpin daerah ini berasal dari penduduk asli maka pemimpin itu tidak akan lama. Ia tidak akan berumur panjang” kata Kyai Darmo Pipiyudo suatu ketika kepada penduduk setempat. Ucapan itu benar-benar dipegang teguh oleh penduduk setempat. “Meskipun pemimpin itu pintar tapi ia tidak akan kuat memimpin daerahnya sendiri. Daerah ini yang cocok dipimpin oleh penduduk pendatang meskipun ia tidak begitu pintar tapi akan kuat memimpin daerah ini” tambahnya.

Suatu ketika daerah itu dipimpin oleh penduduk asli. Ia tidak lama memimpin daerah itu. Tidak lama memimpin daerah itu ia meninggal dunia Peristiwa ini memperkuat keyakinan penduduk terhadap ucapan Kyai Darmo.

“Abah saya mohon izin untuk memimpin daerah ini” kata Laras Mudin kepada abahnya.
“Menurut Abah, kamu ini kurang tepat kalau memimpin daerah ini” kata Kyai Darmo.
“Mengapa demikian, Abah?”tanya Laras Mudin.
“Menjadi seorang pemimpin itu harus seorang berhati segoro karena pemimpin itu akan berhadapan dengan berbagai macam penduduk yang mempunyai watak yang berbeda-beda. Sifat ini yang belum kamu miliki anakku.”jelas Kyai Darmo.
“Berarti Abah tidak memberi izin saya untuk memimpin daerah ini?”tambah Laras Mudin.
“Bukan begitu, anakku. Abah hanya memberikan pertimbangan kepadamu supaya kamu pikirkan matang-matang sebelum kamu teruskan niatmu itu. Keputusan itu ada padamu karena kamu sudah dewasa. Sebagai orang tua Abah hanya memberikan nasihat kepadamu.” kata Kyai Darmo.

Laras Mudin atau yang lebih dikenal penduduk dengan panggilan Mbah Mudin akhirnya mengurungkan niatnya untuk menjadi pemimpin di daerahnya. Ia sudah memikirkan masak-masak dan sudah mempertimbangkan baik-buruknya. Ia membenarkan ucapan abahnya kalau wataknya kurang cocok sebagi seorang pemimpin. Ia merasa kalau dirinya keras dan kaku. Watak itu memang kurang sesuai dengan watak seorang pemimpin. Ia tidak mempunyai hati samudra sebagaimana yang disyaratkan Abahnya. Ia manyadari bahwa masyarakat akan melawan kalau dipimpin dengan menggunakan kekerasan dan tangan besi.

Sauatu hari Kyai Darmo kedatangan seorang tamu.
“Assalamu alaikum” sapa tamu itu..
“Walaikum salam warahmatullah wabarokatuh” jawab Kyai Darmo.
“Kisanak ini siapa dan dari mana?” tanya Kyai Darmo.
“Maaf, Kyai. Saya Jakfar dari Tuban” Jawab Sayid Jakfar.
“Ada keperluan apa Kisanak datang ke gubuk kami?” tanya Kyai Darmo kepada tamunya dengan nada rendah.
“Saya ke sini ingin menimbah ilmu kepada Kyai. Saya sudah mendengar banyak tentang Kyai. Ketinggian ilmu Kyai sudah kondang sampai di daerah kami. Oleh karena itu, saya jauh-jauh datang ke sini untuk berguru kepada Kyai”tutur Sayid Jakfar.
“Saya tidak mempunyai ilmu apa-apa. Semua ilmu itu milik Allah subhanallahu wa ta ala. Saya hanya ditipipi setetes ilmu-Nya saja. Hanya orang-orang yang terlalu membesar-besarkan” jawab Kyai merendah.
“Saya tidak salah memilih Kyai sebagai guru saya karena orang berilmu tinggi namun rendah hati” ujar Sayid Jakfar.

Sayid Jakfar diterima Kyai Darmo sebagai murid. Ia diajari ilmu yang diingini. Ia sangat senang mempelajari ilmu yang diberikan gurunya karena itu sudah menjadi tekadnya. Ia ditugasi gurunya melakukan tapa demi kesempurnaan ilmu yang dipelajarinya. Ia melakukan tapa sesuai dengan petunjuk gurunya hingga sempurna tapanya. Usai melaksakan tapanya ia ditugasi Kyai Darmo memimpin daerah itu. Sebagai seorang murid yang taat, ia menurut perintah gurunya. Ia menjadi pemimpin di daerah itu. Namun, ia tidak lama menjadi pemimpin daerah itu. Ia meninggal dunia. Hal ini juga berulang pada murid Kyai Darmo yang bernama Sayid Abdur Rahman. Ia juga bernasib sama dengan Sayid Jakfar meninggal dunia tidak lama setelah memimpin daerah itu. Hal serupa juga dialami murid ketiga Kyai Darmo.

Daerah itu tidak ada yang memimpin karena pemimpinnya meninggal dunia. Atas saran Kyai Darmo selaku orang yang dituakan di daerah itu akan diadakan pemilihan pemimpin yang baru. Wara-wara dikumandangkan di mana-mana bahwa akan diadakan pemilihan pemimpin daerah itu. Semua penduduk boleh mencalonkan diri, baik penduduk asli maupun penduduk pendatang dari daerah lain.

Setelah lama diumumkan kepada penduduk, ada dua orang yang mencalonkan diri sebagai calon pemimpin daerah itu. Mereka kakak beradik, Sayid Noroyudo dan adiknya yang bernama Sayid Simoyudo.
Penduduk daerah itu mengadakan pemilihan calon pemimpinnya Mereka berbondong-bondong menuju ke tempat pemilihan. Mereka antri mendapat giliran. Mereka memilih calonnya dengan memasukkan biting ke dalam bumbung yang telah disediakan untuk masing-masing calon. Setiap penduduk yang telah memiliki hak pilih mendapatkan satu biting.

Setelah penduduk yang mempunyai hak pilih itu melakukan pemilihan dan batas waktu pemilihan yang ditentukan sudah dilalui. Panitia pemilihan mengadakan penghitungan biting yang dimasukkan ke dalam masing-masing calin pemimpin.

Dalam pemilihan itu Sayid Simoyuda memenangi pemilihan itu mengalahkan kakaknya, Sayid Noroyudo. Sayid Simoyudo dikukuhkan sebagai pemimpin baru di daerah itu menggantikan pemimpin yang telah meninggal dunia.

Sayid Noroyudo merasa malu karena dikalahkan adiknya dalam pemilihan itu, ia memilih pindah meninggalkan daerah itu. Ia pindah ke barat ke daerah Pentol. Di daerah barunya itu ia menjadi tokoh yang disegani karena ilmunya. Di daerah ini ia mendidirkan tempat ketangkasan ilmu yang berada di tengah-tengah desa. Dengan adanya tempat adu ketangkasan ilmu itu sering terjadi keributan dan pertengkaran antara warga desa Pentol dan desa Tanggul rejo. Agar tidak sering terjadi keributan di desa Pentol itu pada saat adu ketangkasan maka desa Pentol diganti nama menjadi desa Sumberrejo Penggantian nama itu diharapkan dapat memberikan suasana baru.

Suatu hari Sunan Giri Gresik pulang dari pengembaraan dan sampai di daerah Pedurungan. Ia dikuti santrinya. Di daerah itu santrinya kehausan. Mereka tidak menemukan air tawar yang dapat diminum. Santri-santrinya diutus mencari air di sekitar daerah itu namun tidak menemukan. Di daerah itu airnya asin semua sehingga tidak bisa diminum. Melihat santrinya sudak tidak kuat lagi menahan rasa laparnya, Sunan Giri menancapkan tongkatnya ke tanah. Bekas tancapan tongkat itu mengeluarkan sumber air tawar. Para santrinya sangat senang melihat air tawar itu. Mereka segera mengambil air dan meminumnya untuk menghilangkan rasa dahaganya. Sumber air itu menjadi sebuah sumur dan berada di tengah-tengan pasar Pedurungan.

Setelah puas mengisi perutnya dengan air tawar dan jernih itu, rombongan Sunan Giri meneruskan perjalanan menuju ke selatan sampai di daerah Tambak Brekat. Terik matahari menguras air yang ditampung di perut mereka. Sengatan matahari itu menyebabkan kerongkongan mereka kering kerontang lagi. Mereka merasa haus. Mereka mencari sumber air tawar di daerah itu tidak menemukan. Mereka menghadap kepada Sunan Giri kalau di tempat itu tidak ditemukan sumber air tawar yang bisa diminum padahal rasa haus mereka sudah tidak bisa ditahan lagi. Sunan Giri mengangkat tongkat yang dipegang di tangan kanannya Tongkat itu ditancapkan ke tanah. Tongkat itu masuk ke tanah dengan mudahnya Tanah itu menjadi berlubang dan lubangnya semakin membesar membentuk sumur. Sumur itu mengeluarkan air tawar yang jernih. Santri Sunan Giri segera mengambil air dan minum sepuas-puasnya.

Rombongan itu meneruskan perjalanan ke arah timur setelah beristirahat beberapa saat di daerah Tambak Brekat. Mereka berjalan kaki menyusuri jalan itu dibawa panasnya matahari yang membakar kulit. Rombongan itu sudah jauh meninggalkan daerah Tambak Brekat. Di tengah perjalanan salah seorang santrinya menderita sakit. Ia mengalami kecapekan selama dalam perjalanan. Santri yang sakit itu minta minum karena kehausan. Sunan Giri menyuruh santrinya untuk mencari air di sekitar daerah itu. Mereka tidak menemukan sumber air tawar di sekitar daerah itu. Sunan Giri menggunakan tongkatnya untuk membuat sumber air sebagaimana yang dilakukan saat di Pedurungan dan Tambak Brekat. Diangkatnya tongkat di tangan kanannya itu dan ditancapkan ke tanah. Setelah tongkat itu dicabut tak setetespun air yang keluar dari bekas tancapan tongkat itu. Santri yang memperhatikan dan menunggu keajaiban sebagaimana yang mereka alami sebelumnya tidak terjadi. Mereka merasa keheran-heranan. Sunan Giri menancapkan tongkatnya lagi ke tanah untuk kali kedua namun air tak kunjung keluar dari tanah tersebut. Mereka merasa lebih heran lagi mengapa tidak seperti sebelumnya hanya dengan sekali tancap langsung keluar sumber airnya denga deras. Mereka tidak berani bertanya kepada gurunya. Sunan Giri mengilanginya sampai ketiga, keempat, kelima, keenam, ketujuh, kedepalan, dan kesembilan. Hasilnya nihil tidak ada sumber air yang keluar dari tanah bekas tancapan itu.

“Santri-santriku, rupanya Allah menguji kesabaran kita” kata Sunan Giri.”Kita harus tabah terhadap ujian yang diberikan Allah kepada kita” tambahnya. Para santrinya yang mendengar tidak menjawab sepatah kata pun hanya menganggukkan kepala.
“Pergilah kamu mengabil air tawar untuk temanmu yang sakit ini di tempat yang ada sumber air tawarnya itu” kata Sunan Giri sambil menunjuk daerah yang baru saja ditinggalkannya.

“Dengan apa saya harus membawa air itu Kanjeng Sunan?”tanya santri yang ditunjuk itu. Sunan Giri belum sempat menjawab pertanyaannya santri itu terburu-buru pergi meninggalkan tempat itu. Sunan Giri merawat santrinya yang sakit. Santri itu dibaringkan di bawah bawah yang rindang agar tidak semakin haus terkena sengatan sinar matahari. Santri lainnya memijat-mijat kaki dan tangan temannya yang sakit.

“Haus…haus…haus” ujarnya pelan.
“Sabar sobat sebentar lagi teman kita datang membawa air” ujar temannya.
Sementara itu santri yang ditugasi mengambil air itu terus berjalan cepat agar sampai di tempat yang dituju sambil memikirkan wadah untuk membawa air. Di tengah perjalanan ia melihat sebuah buah kelapa muda yang baru saja terjatuh dari pohonnya. Pikirannya pecah. Ia mengambil buah kelapa itu. Buah itu dilemparkan ke tanah keras-keras sehingga pecah dan terbelah menjadi dua. Ia bergegas-gegas menuju sumur yang dibuat Sunan Giri dengan tongkatnya itu. Pecahan buah kelapa itu digunakan untuk mengambil air di sumur. Kini kedua tangannya membawa pecahan buah kelapa yang telah terisi dengan air. Ia tidak bisa berjalan cepat lagi sebagaimana pada saat pergi. Ia tidak ingin air yang dibawanya tumpah. Ia tidak ingin sia-sia pulang balik dengan tidak membawa air. Kasihan temannya yang menunggunya.Ia berjalan dengan hati-hati. Panas matahari tidak dihiraukannya.

Sunan Giri memandangi ke jalanan melihat santri yang diutusnya. Ia senang sekali melihat santrinya sudah nampak menuju ke arahnya. Santri itu berjalan semakin mendekati Sunan Giri.
“Kowe ini nggowo opo?” tanya Sunan Giri kepada santrinya yang datang dengan kedua tangannya membawa belahan buah kelapa.
“Beto toyo, Kanjeng Sunan” jawabnya singkat sambil menyodorkan kedua tangannya. Atas peristiwa itu daerah itu dinamai Betoyo

Sunan Giri mengambil belahan buah kelapa yang berisi air itu dan diminumkan kepada santrinya yang sakit dan mengaduh kehausan. Santri meminum air itu. Air itu membawasi tenggorokannya yang kering. Rasanya seperti minum air bercampur es.
“Alhamdulillah, terima kasih sobat kamu telah bersusah payah mengambil air untukku” katanya pelan.
“Maafkan segala kesalahanku. Rasa-rasanya umurku sudah tidak akan lama lagi. Asyhadu an la ilaha illallah waasyhadu anna Muhammadar rasulullah” ujar santri itu setelah minum air itu.
“Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun” terdengar dari Sunan Giri dan santrinya.

Santri itu meninggal dunia di tempat itu yang kini bernama Betoyo. Sunan Guru dan santrinya dibantu penduduk setempat merawat jenazahnya, mulai dari memandikan, mengkafani, mensalati, hingga menguburtkan. Santri itu dimakamkan di Betoyo. Pemakaman tempat santri itu dikuburkan dinamakan makam Sawo. Pada saat itu Kyai Darmo Pipiyudo sudah meninggal dunia. Ia disemayamkan di makam yang berada di tengah-tengah desa. Penduduk desa menyebut makam Kyai Darmo Pipiyudo itu dengan sebutan Makam Buyut Deso. Makam Kyai Darmo Pipiyudo banyak diziarahi peziarah terutama pada malam-malam ganjil sepuluh hari akhir bulan Ramadan. .


Demikian Sejarah Desa Betoyo Manyar Gresik yang pernah saya baca. Jika pembaca mempunyai referensi lain koreksi sebagai perbaikan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar