Sabtu, 12 April 2014

Asal Usul Desa Banjarsari


SEJARAH MBAH RADEN RAHWONO : BUYUT SYURGI 
Anwar A . 

Untuk menyingkap sejarah siapa sebenarnya Mbah Raden Rahwono atau Mbah Syurgi yang menjadi pelaku Babat Alas desa Banjarsari Kec. Manyar Kab.Gresik. Maka kami perlu mengumpulkan data dari berbagai sumber.


Selama ini masyarakat hanya mendengan cerita dari lisan ke lisan, karena tidak ditemukan PAKEM atau catatan tertulis. Oleh karena itu dari cerita beberapa nara sumber kami peroleh 3 versi tentang Asal-Usul Mbah Raden Rahwono atau Buyut Surgi:
Ø  Versi pertama : Bahwa Raden Rahwono Buyut Surgi adalah berasal dari KULON ( Jawa Barat ) yang masih ada hubungan kekerabatan dengan Pangeran Panjulu.

Ø  Versi kedua: Bahwa Raden Rahwono Buyut Surgi adalah panglima perang kerajaan Mataran Islam.( KH. Zainul Arifin )

Ø  Versi ketiga: Bahwa Raden Rahwono Buyut Surgi adalah seorang panglima perang dari Kerajaan Banjarmasin ( Kalimantan ).( KH. Ustman Al-Ishaqi  - KH.ALI Erfan – Ust.farid Murtaji Erfan )

Dari beberapa versi yang kami beroleh, maka versi ketiga-lah yang paling kuat dan disepakati.

Dari sinilah kami mencoba merangkumnya sebagai bahan analisa dan kekayaan sejarah bagi generasi muda khususnya warga Desa Banjarsari Manyar Gresik.
Berkut ini ceritanya ….. :

1.     Mengadu Kesaktian
Diceritakan bahwa : Konon di tanah seberang (Sekarang Kalimantan) tersebutlah seorang Panglima Perang kerajaan Banjar yang gagah perkasa. Telah banyak pengalaman perang yang dialami dan  berhasil sukses dalam rangka mmperluas kerajaannya.
Suatu ketika ia mendengar bahwa di Tanah Jawa Dwipa ( P.Jawa ) ada seorang yang sakti mandra guna, yang dikenal dengan nama Prabu Satmata/Raden Paku/Sunan Giri yang tinggal di bukit Giri. Kesaktiannya terkenal kemana-mana. Banyak tokoh sakti yang takluk kepadnya.
Setelah mendengar berita tersebut, hatinya menjadi panas. Jiwanya amarahnya berkobar-kobar. Maka ia bermaksud datang ke tanah Jawa dengan satu tujuan yaitu ingin mengadu kesaktian dengannya.

2.      Berlayar Menuju Tanah Jawa
Ketika persiapan dan perbekalan sudah cukup, berangkatlah Panglima Kerajaan Banjar beserta beberapa prajurit dengan kapal perangnya mereka menyeberangi Laut Jawa. Mereka bergerak menuju P.Jawa dengan semangat kemarahan yang bergejolak.
Para nahkoda dan awak kapalnya diperintahkan untuk mengendalikan kemudi dengan cepat agar sampai di tempat tujuan. Kapalpun melaju menyibak riak gelombang dan ombak yang bergulung menyeberang lautan lepas. Namun sesampai di tengah laut kapal yang ditumpangi hanya berputar-putar ditempatnya. Kapal yang gagak itu tidak mampu mendekat ke pesisir P.jawa. Bahkan Sang nahkoda dan anak buah kapal telah berjuang mati-matian untuk mengarahkan kapal ke tanah jawa, tetapi tidak membawa hasil. Berhari-hari kapal itu terombang-ambing di tengah laut, hingga para prajurit kehabisan bahan makanan .
Peristiwa aneh yang dialami, membuat Panglima Banjar sadar,  bahwa kejadian tersebut adalah bukti kesaktian Sunan Giri/Prabu Satmata. Ilmu kesaktian yang dimiliki tidak ada apa-apanya dibanding  ilmu Prabu Satmata/Raden Paku/Sunan Giri. Hal ini terbukti :
-          kapalnya tidak bisa sampai di Tanah Jawa
-          Pangeran Banjar tidak bisa berbuat apa-apa ( Takluk sebelum bertanding )

Akhirnya ia merubah niatnya dengan berkata,” Tujuan saya semula datang ke tanah Jawa ingin mengadu kesaktian dengan Prabu Satmata. Tetapi belum bertemu dengan orangnya saja, saya sudah kalah. Apalagi kalau jadi adu kesaktian. Saya Mengaku kalah. Sekarang saya datang berniat BERGURU kepadanya.”


Tidak lama kemudian, tiba-tiba muncullah puluhan KEPITING besar mengelilingi kapal. Para prajurit sempat ketakutan dan hawatir jangan-jangan kepiting itu akan mengoyak-ngoyak kapal dan menenggelamkannya. Namun ternyata dugaan mereka salah. Justru kepiting-kepiting ajaib itu mendorong kapal bergerak menuju ke pesisir tanah Jawa. Maka bergembiralah mereka dan sampai di Tanah Jawa dengan selamat berkat pertolongan kepiting.


3.    Berguru kepada Sunan Giri

Setibanya di pedepokan Giri, Pangeran Banjar beserta para perajuritnya dibuat heran. Kedatangan mereka disambut oleh orang berjubah putih yang wajahnya memancarkan cahaya kebenaran dan kedamaian. Sunan Giri tersenyum ramah. Sebaliknya, P.Banjar tunduk dan tersipu malu. Selain itu Sunan Giri telah menyiapkan segalanya dengan baik dan sempurna, dari jamuan makan dan tempat istirahat. Maka P.Banjar semakin yakin bahwa Sunan Giri adalah orang yang sakti mandra guna, weruh sakdurunge winarah ( sudah tahu sebelum terjadi ).

Sejak itulah P.Banjar dan para prajuritnya resmi menjadi santri dari Sunan Giri.  

( Tidak diketahui dengan jelas berapa lama merka berguru.)



Pada suatu hari Pangeran Banjar dipanggil oleh Sunan Giri:

S. Giri               :” Sudah bertahun-tahun kamu berlajar disini, maka kini saatnya kamu turun gunung mengamalkan ilmumu.”

P.Banjar          :” Sendiko dawuh,Kanjeng Sunan.”

S.Giri                :” Berangkatlah dan menetaplah di desa Banjarsari.ajaklah beberapa orang santri yang akan membantu berdakwah”

P.Banjar          :” Dimanakah desa Banjarsari itu,Kanjeng Sunan.”

S. Giri               :” Berjalanlah kearah barat.”

P.Banjar          :” Injih, nyuwon pangestu.”

Barangkatlah Pangeran Banjar menuju desa Banjarsari( Cerme ). Kemudian beliau tinggal dan menetap di sana untuk berdakwah dalam waktu beberpa lama.

Pada suatu hari, timbullah keraguan P.Banjar. Benarkah desa ini yang dimaksud Kanjeng Sunan Giri. Maka untuk mencari jawaban itu, kembalilah beliau menghadap Sunan Giri.

P. Banjar       :” Guru, benarkah desa yang kami tempati itu sesuai dengan maksud Guru ?”

S.Giri              :” Bukan. Desa yang saya maksud adalah Desa Banjarsari yang berbatasan dengan desa SUCI.”

P. Banjar       :” Mafkan kami,Guru.”
S.Giri              :” Sudahlah, tidak apa-apa.”

Sekembalinya dari Sunan Giri ,beliau berangkat menuju Desa Banjarsari ( Manyar), dan tepat di perbatasan desa Suci, beliau tinggal dan menetap disana untuk berdakwah sampai akhir hayatnya.

Semoga Alloh menganugerahkan Rahmat dan AmpunanNya, dan menempatkannya diu Syurga. Amin


( Demikian sejarah singkat MBAH RADEN RAWONO yang mampu saya persembahkan untuk masyarakat Banjarsari.  Kritik dan saran dari para pembaca kami butuhkan demi perbaikan sejarah ini …..Wassalam )


BUKTI  KEBENARAN SEJARAH


Ø Ketika ada acara Khol Manaqib yang dihadiri oleh KH.Ustman AlIshaqi, beliau bertanya kepada panitia;
KH. Ustman  :” Iki deso opo ( ini desa apa ) ?”
Panitia           :” Niki deso Banjarsari,Yai.”
KH.Ustman   :” Dudu Banjarmasin ta?”
Panitia           :” Sanes,Yai. Niki Banjarsari.”
KH.Ustman   :” Ora, iki Banjarmasin.” ( Sumber: Ust.Nasihin)

Ø Sebagai ungkap terima kasih. Orang – orang tua Banjarsari dulu dilarang makan Kepiting.

Ø Nama Banjarsari adalah pemberian dari Sunan Giri mengambil dari nama Panglima perang kerajaan Banjar ( Banjarmasin), sebagai pelaku dakwah disana.

Ø Kesalahan tempat yang dituju oleh P.Banjar, menjadi sebab musabab orang salah alamat. Kalau kita bilang desa Banjarsari, tentu orang mengira Banjarsari Cerme.



Lokasi Makam

Ø Letak makam Mbah Raden rahwono berada tepat di perbatasan desa Banjarsari dan Suci. Dan disekitarnya terdapat puluhan atau mungkin ratusan makam. Semasa saya masih kecil, makam-makam itu masih Nampak jelas. Namun sekarang sudah banyak batu nisan yang hilang. Hanya tinggal beberapa saja yang masih tersisa.

Ø Di tengah makam terdapat pohon asam yang besar dan diperkirakan sudah berumur ratusan tahun.

Ø Makam Mbah Raden sekarang sudah berubah dari yang dulu. Dulu hanya berupa batu gunung yang tersusun rapi. Tapi sekarang sudah ditutup dengan kramik dengan warna kehijau-hijauan dan berpagar stenlis.

Ø Sebelum turun menuju makam Mbah Raden, di sebelah selatan agak ke barat terdapat makam yang dianggap oleh masyarakat berbeda. Sehingga dirawatnya dengan baik. ( mungkin ini pengawalnya atau asisten atau ………).

Wassalam













4 komentar:

  1. Bgitu toh ceritanya pakwar? Dg adanya artikel ini, bisa buat sumber cerita anak cucu qt. 👍

    BalasHapus
  2. Saya sangat apresiasi terhadap catatan sejarah yg dulu hanya bisa kita temukan melalui kata" sesepuh atau kearifan lokal saja tetapi sekarang mungkin dg ini generasi muda tau akan sejarahnya

    BalasHapus
  3. Alhamdulillah ada.sejarah yang bisa kami pakai sebagai pegangan, karena walaupun ada nasab dg beliau, tapi kami sama sekali buta tentang beliau.Allahummaghfirlahum warhamhum wa afii wa fu anhum..aamin
    Kami sampaikan terimakasih yang sebanyak banyaknya pada penulis,Jazakumullah khoiron katsiiro .

    BalasHapus