Rabu, 08 Januari 2014

Cerpen : Anak Durhaka

 Penyesalan yang Terlambat

“Pergi!!! dasar orang tua tidak berguna! aku capek mengurus bapak yang bisanya Cuma tidur dan makan!”. Terngiang kata-kata itu setiap kali aku mengingat bapak. Membuat aku tak pernah berhenti menyalahkan diriku yang telah mengusir bapak beberapa bulan silam. Kini aku sadar betapa berharganya beliau bagiku, satu-satunya orang tuaku di dunia ini, setelah beberapa tahun lalu ibu meninggalkan kami, karena penyakit kanker yang dideritanya.

Mulai hari itu aku jadi membenci bapak karena aku berpikir beliau tidak becus mengurus keluarga, hingga tak mampu membiayai operasi kanker ibu, dan akhirnya beliau meninggal dunia dengan membawa derita yang menyakitkan. Hari-hari kulalui tanpa sosok seorang ibu, terasa begitu menyakitkan bagiku, yang saat itu duduk di bangku kelas 3 SMU. Saat-saat dimana doa dan motivasi darinya sangat kubutuhkan. Aku berharap masa-masa sekolahku ini segera usai, dan aku berniat untuk bekerja demi membiayai sekolah ketiga adikku yang masih duduk di bangku sekolah dasar dan taman kanak-kanak. Aku tidak pernah peduli dengan keadaan bapak, dengan apapun yang dilakukannya, aku tak pernah menganggap dia ada, walaupun setiap hari aku melihatnya.

Kini aku telah sukses, tak lagi tinggal di gubuk reot yang atapnya bergelayut karena rapuh. Rumahku kini bisa di bilang mewah, namun aku merasa ada yang ganjil dalam hidupku, rasanya nafasku tidak lengkap. Dan aku sadar ternyata aku merindukan sosok bapak. Aku ingin beliau ada untuk menikmati hasil kerja kerasku ini.

Semoga penyesalanku ini belum terlambat, kucari bapak di tempat terakhir keberadaan beliau. Aku sampai di sebuah restoran yang cukup sederhana, kutanyakan pada pemilik restoran dimana bapak sekarang.
“oh… jadi ini anak kurang ajar pak Kartolo! cantik cantik tapi tidak beretika! dimana pikiranmu nak!? dimana balas budimu sebagai anak? tega sekali kamu membiarkan orang tuamu bekerja! dia berjalan saja harus dengan tongkat!” aku hanya terdiam tak mampu berkata-kata mendengar ucapan ibu pemilik restoran itu. Namun, jika aku hanya diam saja aku tak kan mendapat informasi keberadaan bapak saat ini, kuberanikan diri bertanya lagi,
“bu, dimana bapak sekarang?”.
“nggak tau, cari saja sendiri! mungkin jadi pengemis demi mencari makan untuk putrinya yang durhaka ini” katanya sembari meninggalkan aku yang terpaku mendengar ucapannya.
“mbak jangan berdiri di jalan”
seseorang menepuk bahuku hingga membuyarkan lamunanku tentang bapak, segera saja aku berlalu sambil tertunduk lesu karena tak ada informasi tentang bapak yang kudapat. Kujalankan mobilku dengan pikiran tak karuan hingga aku hampir saja menabrak orang-orang yang sedang berkerumun di tengah jalan. Kuhentikan mobilku, aku turun dan ikut berkerumun melihat apa yang sedang terjadi.

Bagaikan di sambar petir aku terperanjat melihat sosok yang sedang dikerumuni orang-orang itu. Orang tua yang sudah tak berdaya, terbaring di tengah jalan dengan bersimbah darah, di hantam oleh kendaraan yang pengemudinya tak bertanggung jawab. Hatiku serasa di sayat sembilu, melihat sosok yang ternyata adalah bapak. Inikah pertemuan yang kurindukan dengan bapak? Bertemu hanya dengan raga tanpa nyawa. Aku menangis sejadi-jadinya memeluk erat tubuh yang tak lagi mampu berbicara itu.

Kini aku berada di pembaringan terakhir bapak. Tak mampu kutatap nisan yang bertuliskan nama beliau, teringat lagi masa-masa indah bersama beliau saat aku kecil, bermain bersama, bercanda, dan tertawa bahagia. Namun kini hanya tinggal kenangan berbingkai pahit, beliau belum sempat menerima maaf dan sungkemku, beliau belum sempat menikmati kesuksesanku.

Anganku semakin jauh melayang teringat semua kekejaman yang pernah kulakukan pada beliau. Ku usir beliau di tengah hujan lebat, rasanya tak mampu aku memaafkan diriku sendiri, namun semua penyesalannku ini terlambat, beliau telah kembali ke sisiNya, meninggalkan semua penderitaan yang dirasakannya dunia ini. maafkan aku bapak, maafkan aku…

Cerpen Karangan: Diah Suci Puspitasari

Tidak ada komentar:

Posting Komentar